Curahan Hati Dina

“Ryu Princeton dari jepang”sahut widi lirih
“benarkah…,memang sih seperti yang kauceritakan tadi malam”sahut naras
“ya sudahlah, cepat kita ke perpus”jawab widi sambil menarik tangan naras
masuk perpus mereka lalu mebaca buku yang terkait dengan bidang perlombaan masing masing dengan tenang mereka membaca berjam jam
waktu demi waktu berlalu widi lalu melihat hari telah sore dan segera pulang ke asrama
“hei ras, ayo cepat hari mulai sore”
“iya wid, sebentar”jawab naras sambil mengembalikan buku bukunya
mereka pun meninggalkan perpustakaan sambil mengamati bunga tulip dan matahari serta indahnya langit sore mereka kembali ke asrama
setelah mandi dan berpakaian mereka makan di aula untuk makan malam
“hua… besok perlombaan melawan celtic ayo semangat!!!”sahut widi dengan tangan mengepal dan mata berapi api
“iya jangka waktu 2 hari untuk mempersiapkan telah usai besok kita akan menghadapi celtic”jawab yosi
“Eh 1 bulan lagi kan kita akan ujian semesteran”potong dina
“eh.. benarkah? hmm… telah lama kita lalui bersama”sambung naras
“iya.. maka kita menangkan perlombaan ini dengan usaha kita”timpal widi
“SETUJU…!”jawab ketiganya serentak
“maka sebelum itu kita ‘cheers’ untuk kemenangan kita besok”sambung dina
“cheers..”ke empatnya menyatukan gelas
“hahahahahha….” keempatnya lalu tertawa
malamnya mereka tidur dengan pulas kecuali Dina yang masih menatap langit malam yang kebetulan cerah dan kelihatan bintang-bintang
“belum tidur, din?”tanya yosi
“iya.. kamu juga?” Dina  giliran bertanya
“Tidak aku terbangun… mengapa kau melamun din?”
“Aku rindu mama&papaku”jawab dina sambil menitikkan air mata
“Aku juga… tetapi kita beruntung punya orangtua seperti mereka”jawab yosi
“mengapa? kau bisa bilang begitu…”tanya dina agak kesal
“apa yang ada di pikiranmu tentang orangtuamu?”
“aku sejak dulu kesepian karena ortuku bekerja terus”putri menitikkan air mata lagi
“loh.. itu bukannya untukmu juga?”
“tapi aku kesepian di rumah hanya pembantu di rumah karena mama papa pulang malam dan masuk kerja pagi pagi sekali”
“jadi… kau menyalahkan orangtuamu karena tidak menyayangimu?”
“ya.. kurang lebih begitu yos”
“dengarkan aku Din.. kamu pernah mendapat kado atau benda apa saja dari mama papamu?”
“pernah”
“berarti mama papamu tak melupakanmu dan menyayangimu sepenuh hati bahkan kau di sekolahkan di sekolah ini”
“taa..taa..tapi”
“bukankah kau masih dianggap keluarga.. bukankah kau masih di kirimi uang untuk keperluan disini kau harus mengerti”
“iya.. yos”
“betapa pun kerja keras ortumu itu demi anaknya… memang kamu mau tidak punya orang tua, kita harus bersyukur masih mempunyai ortu”
“iya yos aku sudah sadar betapapun mereka pergi jauh tapi mereka tetap menyayangiku”
“benar.. sini peluk aku”sahut yosi.. kedua sahabat itu lalu berpelukan
“ayo put segera tidur besok kita akan menghadapi ujian berat”
“iya selamat malam yos”
“malam din”

Paginya langit cerah murid celtic dan maiden telah bersiap- siap ada yang masih membaca buku ada pula yang baru mandi
yah… pagi hari ini memang hari yang menegangkan bagi mereka karena akan adu cerdas 1 lawan 1 di aula sekolah yang disiarkan oleh televisi
“kita siap”kata wachid dengan penuh semangat
“oke kita berangkat dengan semangat pagi”jawab ryu
barisan anak anak celtic dipimpin oleh Ryu
“kalian siap”kata yosi
“siap komandan”kata ketiganya serentak
“ayo kita berangkat”kata yosi
barisan anak anak maiden dipimpin yosi
barisan keduanya tidak melewati jalan yang sama. siswi maiden melewati jalan langsung sedangkan siswa celtic lewat pintu samping
tapi tetap saja di beri sambutan meriah dari beberapa penonton yang akan menonton adu cerdas nanti
“oh ya wid ada sesuatu yang akan kami katakan”kata yosi
“apa?”tanya widi
“menurut sejarah kita belum pernah menang melawan celtic”kata naras
“kau pasti bercanda”gurau widi
“memang benar kita belum pernah menang”kata dina meyakinkan
“apa….”kata widi
“kami berharap dengan masuknya kamu kekuatan kita bertambah” kata yosi
“ini pasti sangat berat”jawab widi sambil menghela napas
“tenang saja kita akan berusaha semampunya dan menjawab soal dengan benar”kata naras sambil mengacungkan jempolnya
“benarkah kita akan berjuang bersama sama”tanya widi
“benar”kata dina pelan
“Baiklah ayo kita berjuang….!”kta widi penuh semangat
TO BE CONTINUED

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s